Militer dan Sastra

16 Sep

Militer dengan wajah keras, tegas dan kaku berkolaborasi dengan sastra yang mengedepankan kehalusan rasa, keindahan kata-kata dan kelembutan makna. Militer adalah Mars, sedangkan sastra adalah Venus. Beberapa karya sastra yang banjir dengan nuansa patriotisme, nasionalisme dan juga bumbu-bumbu percintaan ala opera sabun, mampu menyedot perhatian publik. Ratusan juta eksempelar novel dicetak dan disebar ke seantero negeri di jagat ini.

Sebutlah novel Musashi karya Hidetsugu “Eiji” Yoshikawa yang menjadi best seller dengan pencapaian angka 120 juta eksempelar sejak pertama kali diterbitkan. Mantan reporter Mainichi Shimbun yang kemudian berubah menjadi penulis novel profesional. Ini bukan soal perang semata, ini adalah filsafat kehidupan. Musashi adalah wajah antitesis kehidupan Jepang moderen yang individualistis. Secara sinis bahkan kehidupan orang-orang Jepang saat ini disebut sebagai binatang-binatang ekonomi.

Samurai dan pedang tidak terlepaskan bagi rakyat negeri Sakura, bahkan keduanya ibarat daging yang menyelimuti tulang dalam tubuh manusia. Kedua unsur itu yang menjadi simbol patriotisme dalam Musashi. Bahkan, ketika Portugis memperkenalkan mesiu pada abad XVI, para Samurai emoh. Mereka pun bergulat dengan senjata tradisional itu, hingga mampu melahirkan 1.700 jurus-jurus pedang dengan aliran berbeda.

Musashi adalah filsafat kehidupan, sehingga 110 juta warga Jepang begitu lekat dengannya. Dia hadir bagai oase akan kerinduan terhadap makna hidup sebenarnya. Ketika kehidupan hanya seputar otak, perut dan kelamin, maka tidak salah jika manusia diibaratkan binatang. Tentunya binatang ekonomi yang diistilahkan juga sebagai homo economicus.

Militer adalah militer, dan sastra adalah sastra. Di tangan Eiji, kedua unsur berseberangan itu, mampu diramu menjadi keindahan bercampur epic sejarah yang penuh dengan nanah dan darah. Pada saat Musashi masih hidup, di Jepang tengah terjadi transisi besar. Keberhasilan Tokugawa sebagai Shogun (diktator militer) menyebabkan perang-perang antara Dainyo (tuan tanah) berakhir. Situasi perang yang terjadi secara terus menerus beralih ke kondisi damai. Sedikit demi sedikit terjadi pergeseran kelas antara Samurai, yang boleh menyandang pedang dan menggunakan nama keluarga, dengan mereka yang bukan Samurai, meski dari kalangan pedagang besar atau tuan tanah.

Militer adalah militer, dan sastra adalah sastra. Musashi adalah gambaran Takezo yang berhasil dilukiskan Eiji sebagai manusia yang mendapat pencerahan. Dia bangkit dari pingsannya setelah melewati perang di padang Sekigahara. Perang ini yang kemudian menentukan kemenangan Tokugawa.

Masa-masa damai di era Tokugawa menyebabkan para Samurai tidak memiliki pekerjaan. Pedang pun disarungkan. Mereka sadar di era tersebut, disiplin diri dan intelektualitas pendidikan lebih penting ketimbang mengayunkan pedang yang sudah bersimbah darah. Friksi yang tadinya diselesaikan dengan pedang, kini beralih menjadi diplomasi yang selalui diselimuti kepentingan-kepentingan.

Masashi adalah persoalan optimisme hidup meski tubuh sudah begitu lekat dengan maut. Tengoklah dialog Takezo dengan Matahachi. “Kau mesti percaya pada diri sendiri! Tak ada orang mati karena mencret. Cepat atau lambat, kita akan menemukan rumah. Dan kalau kita sudah menemukan rumah itu, kutidurkan kau dan akan kudapatkan obat. Sekarang hentikan rengekan tentang mati itu!”

Militer adalah militer, dan sastra adalah sastra. Ketika venus dan mars berkolaborasi, maka lahirlah keindahan epic sejarah, meski di dalamnya selaksa darah, nanah, kekejaman dan kesedihan akan kematian, berbalut menjadi satu yang disebut sebagai karya sastra. (*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: