Jejak Langkah Sang Perwira

10 Sep

Belanda & Jepang memberikan pengaruh bagi banyak hal dalam kehidupan bernegara dan berbangsa di tanah air. Untuk urusan militer, kedua negara yang pernah menjajah Indonesia itu memberikan warna bagi pembentukan angkatan bersenjata di Indonesia di era pertama. Akademi Militer di Yogyakarta dan Sekolah Kadet (Taruna) di Malang mengadopsi gaya KNIL (Koninklijk Nederlandsche Indische Leger) atau tentara Kerajaan Hindia Belanda dan Boci Gyugun atau PETA (Pembela Tanah Air), yaitu tentara pemuda bentukan Jepang untuk rakyat Indonesia.

Atas masukan dari berbagai pihak, Presiden Soekarno kemudian melebur kedua gaya berbeda tersebut menjadi satu, hingga mengintegrasikan kedua institusi pendidikan perwira militer tersebut. Konsep integrasi disetujui pada 7 Juni 1948 dengan dimulainya pemindahan para kadet (taruna) dari Malang ke Surakarta hingga dekat ke Yogyakarta.

Cikal bakal pendidikan militer di Indonesia tidak lepas dari pemikiran bahwa pertahanan negara yang kuat membutuhkan angkatan bersenjata yang profesional dan berintegritas. Generasi pertama sekolah Taruna di Surakarta sendiri dihadapkan pada tantangan dalam negeri dan luar negeri. Tantangan pertama adalah pecahnya pemberontakan PKI Madiun pada 1948.

Para Taruna di sekolah ini pun diterjunkan untuk menumpas para pemberontak PKI yang menjadi ancaman bagi kedaulatan negara. Ancaman kedua adalah agresi militer Belanda II yang terjadi di Yogyakarta pada 11 Desember 1948. Berkat semangat patriotisme dan nasionalisme yang tinggi, para perwira dan taruna militer Indonesia berhasil mengatasi ancaman-ancaman kedaulatan negara tersebut.

Presiden Soekarno usai membacakan proklamasi pada 17 Agustus 1945, tidak serta merta disambut positif oleh beberapa kalangan. Belanda yang menjajah Nusantara hingga lebih dari tiga abad, tentunya tidak rela melepas begitu saja negeri yang penuh dengan pesona ini. Oleh sebab itu, keberadaan sekolah militer pertama di Malang, dirasakan betul urgensinya.

Namun, melahirkan perwira-perwira handal melalui proses pendidikan formal tidak mudah. Pada tahun 1950, Pemerintah pernah menutup sementara Akademi Militer di Yogyakarta. Sedikitnya peserta pendidikan menjadi alasan penutupan tersebut. Sebenarnya akademi ini sudah masuk angkatan ketiga pada tahun 1949. Pada saat itu, jumlah taruna yang berhasil direkrut sebanyak 12 orang dari 21 yang mendaftar. Ketatnya persyaratan menjadi faktor sedikitnya pemuda yang mendaftarkan diri pada saat itu. Faktor yang terberat saat itu adalah taruna harus berpendidikan minimal Sekolah Menengah Atas (SMA).

Dari 12 taruna yang berhasil diterima Akademi Militer, hanya tujuh orang yang kemudian lulus pendidikan. Ketujuh orang itu kemudian dikirim Pemerintah untuk mengikuti pendidikan di Akademi Militer Kerajaan atau Koninklikje Militaire Academie (KMA) Breda di Belanda. Ada istilah unik yang disematkan para instruktur KMA kepada para taruna, yaitu jonkers. Jonkers adalah sebutan bagi masyarakat kincir angin kepada anak bangsawan atau keluarga keturunan kerajaan.

Sumber: Memoar Rudini: Jejak Langkah Sang Perwira

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: